Lembaran hidup khalifah yang ahli ibadah, zuhud, dan khalifah rasyidin yang kelima ini lebih harum dari aroma misk dan lebih asri dari taman bunga yang indah. Kisah hidup yang mengagumkan laksana taman yang harum semerbak, dimanapun Anda singgah didalamnya yang ada hanyalah suasana yang sejuk dihati, bunga-bunga yang elok dipandang mata dan buah-buahan yang lezat rasanya.
Kisah yang mengesankan ini diriwayatkan dari Salamah bin Dinar, seorang ‘alim di Madinah, qadhi dan syaikh penduduk Madinah. Beliau menuturkan kisahnya:
“Suatu ketika, aku menemui khalifah muslimin Umar bin Abdul Aziz tatkala beliau berada di Khunashirah, tempat pemerahan susu. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan beliau. Saya mendapatkan beliau berada di depan pintu. Pertama kali memandang, saya sudah tidak mengenali beliau lagi lantaran banyaknya perubahan fisik pada diri beliau dibandingkan dengan tatkala bertemu dengan saya di Madinah. Saat itu dimana beliau menjadi gubernur di sana. Beliau menyambut kedatanganku dan berkata:
Umar: “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim!”
Aku: (Akupun mendekat), Bukankah Anda amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz?”
Umar: “Benar!”
Aku: “Apa yang menyebabkan Anda berubah?! BUkankah wajah Anda dahulu tampan? kulit Anda halus? Hidup serba kecukupan?”
Umar: “Begitulah,aku memang telah berubah!”
Aku: “Lantas apa yang menyebabkan Anda berubah padahal Anda telah menguasai emas dan perak dan Anda telah diangkat menjadi amirul mukminin?”
Umar: “Memangnya apa yang berubah pada diriku wahai Abu Hazim?”
Aku: “Tubuh begitu kurus dan kering, kulit Anda yang menjadi kasar dan wajahmu yang menjadi pucat, bening kedua matamu yang telah redup..”
Tiba-tiba saja beliau menangis dan berkata,
Umar: “Bagaimana halnya jika engkau melihatku setelah tiga hari aku di dalam kubur, mungkin kedua mataku telah melorot di pipiku..perutku telah terburai isinya.. ulat-ulat tanah menggerogoti sekujur badanku dengan lahapnya. Sungguh jika engkau melihatku ketika itu wahai Abu Hazim, tentulah lebih tak mengenaliku lagi dari hari ini. Ingatkah Anda tentang suatu hadits yang pernah Anda bacakan kepadaku sewaktu di Madinah wahai Abu Hazim?”
Aku: “Saya telah menyampaikan banyak hadits wahai Amirul Mukminin, lantas hadits manakah yang Anda maksud?”
Umar: “Yakni Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah”
Aku: “Benar, aku masih mengingatnya wahai Amirul Mukminin”
Umar: “Ulangilah hadist itu untukku, karena saya ingin mendengarnya dari Anda!”
Aku: “Saya telah mendengar dari Abu Hurairah berkata: “Aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaishi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di hadapan kalian terhampar rintangan yang terjal, sangat berbahaya, tidak ada yang mampu melewatinya dengan selamat melainkan orang yang kuat.“
Lalu menangislah Umar dengan tangisan yang mengharukan, saya khawatir jika tangisan tersebut memecahkan hatinya. Kemudian beliau mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata: “Apakah Anda sudi menegurku wahai Abu Hazim bila aku berleha-leha dalam mendaki rintangan yang terjal tersebut sehingga aku berhasil menempuhnya? Karena aku khawatir jika aku tidak berhasil”
Sumber: Di ambil dari Buku “Mereka adalah para Tabi’in” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, pustaka at tibyan







